Home » » 3 Alasan Saya Berhenti dari Tool Plagiarism Checker

3 Alasan Saya Berhenti dari Tool Plagiarism Checker

Berbicara tentang artikel unik rasanya tidak bisa dilepaskan dari tool yang namanya plagiarism checker. Sebagian blogger bahkan harus selalu memeriksa apakah artikel yang telah ditulis benar-benar unik atau mengandung unsur copy-paste. Memang hal yang wajar jika tool plagiarism checker menjadi pilihan utama untuk meyakinkan diri bahwa artikel akan aman dari copyright orang lain.

Terlepas dari itu semua ternyata saya tidak selalu memakai tool tersebut apakah itu tool gratis seperti smallseotools atau copyscape. Bukan tanpa sebab saya tidak menggunakannya lagi. Memang dahulu saya sering mengecek apakah artikel yang saya tulis benar-benar unik di mata search engine seperti Google. Maklum di dalam Program Google Adsense sebuah pelanggaran copyright bisa berujung banned permanen.

Namun belakangan ini saya memiliki pandangan lain tentang tool plagiarism checker. Saya sering mengabaikan dan tidak menggunakannya. Apalagi ketika keterampilan menulis saya  meningkat secara bertahap dan lebih sering mengandalkan ide kreatif. Perasaan ingin menggunakannya pun sering berpikir dua kali.

3 Alasan Saya Berhenti dari Plagiarism Checker

Alasan tidak menggunakan tool plagiarism checker


1. Saya tidak sedang menulis artikel untuk dijual

Menunjukkan hal yang positif ketika saya menggunakan tool plagiarism checker untuk memgetahui kualitas keunikan artikel saya. Bahkan tidak jarang saya bilang “Yes” sambil mengepalkan tangan tanda senang ketika hasil pengecekan menunjuk angka “100%”. Saya seperti telah memenuhi syarat menjadi penulis profesional.

Namun setelah saya mulai menemukan jati diri sebagai penulis yang telah berkembang di situ saya mulai berpikir ulang tentang tool plagiarism checker.
“Apakah setiap saya menulis artikel harus selalu dicek menggunakan tool tersebut?”

Memang artikel unik adalah penting, tetapi mempertimbangkan apa yang telah terjadi yang sudah-sudah dengan tool tersebut saya mulai jenuh. Setiap dicek rata-rata hasil menunjukkan 90% lebih.

Ketika itu muncul pertanyaan lagi “bukankah lebih baik saya fokus menulis artikel yang panjang dan berkualitas, toh hasil yang muncul selalu dijalur yang tepat?”

Dari sinilah saya mulai mengurangi penggunaan tool plagiarism checker. Terlebih saya menulis artikel untuk blog pribadi dan bukan untuk dijual. Jika dijual maka saya pasti menggunakannya karena kepuasan pelanggan adalah mutlak penting. Namun karena hanya digunakan untuk pribadi pengalaman hasil cek adalah alasan saya mengabaikannya.

2. Saya tidak sedang menulis artikel untuk review produk

Diantara sebab banyak blog affiliasi marketing yang dibanned adalah gara-gara terindikasi copy-paste. Oleh karena itu tool plagiarism checker adalah pilihan cerdas yang bijak untuk cek keunikan artikel. Memang bukan hal yang mustahil, tetapi kebanyakan affiliasi marketer sering kesulitan menghasilkan artikel review yang unik. Bagaimanapun juga menulis artikel review lebih sulit untuk mencapai target unik.

Perlu diketahui juga bahwa menulis artikel review sering terbatas pada apa kegunaan, fitur maupun keunggula produk makanya tidak heran jika pembahasannya lebih terbatas. Namun begitu ada teknik khusus yang cukup efektif yaitu dengan mengubah sedikit kalimatnya kemudian dicek menggunakan tool tersebut, jika berhasil 100 % maka rencana membuat artiel review sukses.

Namun karena saya tidak sedang menulis artikel untuk review produk affiliasi maka penggunaan tool plagiarism checker saya abaikan. Bukan berarti saya tidak tertarik dengan affiliasi marketing, tetapi jika belum memiliki ilmu yang cukup maka saya belum berani fokus dengannya.

3. Saya menulis artikel dengan mengandalkan ide kreatif

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa awal kali saya blogging saya sering melakukan copy-paste dari blog orang lain untuk menulis artikel. Memang terlihat buruk, tetapi karena keterbatasan ilmu dalam dunia kepenulisan saya terpaksa melakukannya.

Meskipun begitu saya menyadari bahwa copy-paste secara berlebihan dapat membuat artikel terindikasi plagiat. Oleh karena itu dengan sedikit perubahan kata-kata saya merevisi kalimat tersebut dengan begitu artikel menjadi unik. Tentunya setelah saya cek menggunakan tool plagiarism checker.

Seiring bertambahnya jumlah latihan dan pengalaman disertai panduan dari membeli ebook akhirnya saya menemukan cara menulis artikel yang baik untuk pembaca. Yaitu menulis artikel dengan mengandalkan imajinasi, inspirasi dan kreatifitas. Hasilnya pun tidak mengecewakan saya bisa menulis artikel hingga lebih dari 1000 kata.

Berkaitan dengan hal ini secara sadar saya mulai menghentikan cek artikel di plagiarism checker. Saya sudah cukup yakin dan percaya diri bahwa apa yang telah saya tulis cukup baik dan unik. Oleh karena itulah saya bisa mengurangi atau berhenti dari tool plagiarism checker yang cukup menguras kuota internet juga. Maklum biar blogging lebih irit.

Kami mengharapkan artikel 3 Alasan Saya Berhenti dari Tool Plagiarism Checker bisa Anda bagikan melalui media sosial di atas. Terima kasih

« Sebelumnya
« Prev Post
Berikutnya »
Next Post »
Mas Hartarto

Perkenalkan nama saya Mas Hartarto, admin dari SinarBlogging.net. Seorang blogger kampung yang suka berbagi informasi tentang tips menulis, dan tips blogging dan informasi lain yang terkait

0 Comments:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar dengan baik dan sopan berkaitan dengan topik
Jangan meninggalkan komentar spam karena akan dihapus.
Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA
Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir
Jika Anda ingin mendapatkan backlink cukup tuliskan Name/Url yang terlah disediakan
Terima kasih